MAN 2 Agam Gelar Workshop Kurikulum Berbasis Cinta Pembelajaran Mendalam di Auditorium Hotel Nikita Palace Bukittinggi
Sabtu (31/1), MAN 2 Agam menggelar Workshop Kurikulum Berbasis Cinta Pembelajaran Mendalam (KBC-PM) yang bertempat di Auditorium Hotel Nikita Palace, Bukittinggi. Kegiatan ini dihadiri oleh Pengawas Madrasah Kabupaten Agam, Ibu Febrial, S.Pd.I., serta Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Agam, Bapak Ali Mutasar, M.Pd. Workshop ini diikuti oleh 42 peserta yang terdiri dari tenaga pendidik dan tenaga kependidikan MAN 2 Agam.
Kepala MAN 2 Agam, Ibu Azizul Hayati, S.Ag., M.Pd., dalam laporannya menyampaikan bahwa workshop ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman guru dalam melaksanakan pembelajaran yang bermakna dan mendalam bagi peserta didik. Melalui kegiatan ini diharapkan terbangun kesamaan persepsi dalam penerapan Kurikulum Berbasis Cinta Pembelajaran Mendalam, baik dalam penyusunan modul ajar maupun praktik pembelajaran di kelas.
Pengawas Madrasah Kabupaten Agam, Ibu Febrial, S.Pd.I., dalam sambutannya mengapresiasi kekompakan serta komitmen seluruh civitas akademika MAN 2 Agam dalam menjalankan tugas dan peran strategis sebagai pendidik generasi bangsa.
Kegiatan workshop ini secara resmi dibuka oleh Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Agam, Bapak Ali Mutasar, M.Pd., yang diawali dengan lantunan pantun:
Hujan lebat di daerah Palingam
Tergenang air sampai ke jalan raya
Salam hebat untuk Kamad dan GTK MAN 2 Agam
Bisa melaksanakan awal tahun lokakarya
Hari Minggu janjian ketemu
Sambil makan dan diskusi
Guru hebat itu tidak hanya mengajar dan mentransfer ilmu
Tetapi mau belajar dan merefleksi diri
Dalam pemaparan materinya, Bapak Ali Mutasar, M.Pd. menjelaskan bahwa Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan pada pemahaman konsep secara utuh, bermakna, dan berkelanjutan. Pembelajaran ini tidak sekadar berorientasi pada penguasaan materi, tetapi pada bagaimana peserta didik mampu memahami, mengaitkan, merefleksikan, serta menerapkan pengetahuan dalam kehidupan nyata.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa Pembelajaran Mendalam bukanlah kurikulum baru, melainkan pendekatan yang dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum yang berlaku. Guru didorong untuk menghadirkan pengalaman belajar yang menantang, kontekstual, reflektif, dan berpusat pada peserta didik sehingga proses belajar benar-benar memberi dampak.
Sementara itu, Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagaimana tertuang dalam SK Dirjen Pendis Nomor 6077 Tahun 2025 merupakan upaya strategis madrasah dalam mengintegrasikan nilai cinta, kasih sayang, toleransi, dan harmoni dalam seluruh proses pembelajaran. Kurikulum ini bertujuan menciptakan madrasah yang ramah anak, menumbuhkan kesejahteraan mental dan spiritual peserta didik, serta membangun kepedulian terhadap lingkungan.
Prinsip utama Kurikulum Berbasis Cinta menekankan pendidikan berbasis nilai, keteladanan, penghargaan terhadap keberagaman, serta penguatan karakter melalui pembiasaan positif di lingkungan madrasah. Dengan pendekatan ini, madrasah diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berakhlak, berempati, dan berkeadaban.
Dalam arahannya, Kasi Pendidikan Madrasah menegaskan bahwa guru tidak hanya dituntut mampu mengajar dan menyampaikan materi di kelas, tetapi juga harus terus meningkatkan (upgrade) kompetensi diri. Keberhasilan pembelajaran, menurutnya, tidak diukur dari seberapa banyak materi yang disampaikan, melainkan seberapa dalam peserta didik memahaminya.
Sebagai penutup, beliau juga menekankan pentingnya moderasi beragama dalam kehidupan bermasyarakat agar tercipta suasana yang rukun dan harmonis, serta menegaskan bahwa kunci utama kesuksesan adalah stabilitas dan ketekunan dalam menjalankan peran sebagai pendidik. (*Novia Primasari,S.Pd)